GPRS Connection

Dalam post ini akan dibahas mengenai teknologi internet mobile awal yang bernama GPRS. Singkatan GPRS sendiri adalah General Packet Radio Service. GPRS menggantikan teknologi transfer data yang bernama CSD (Circuit Switch Data) yang berkecepatan lebih lambat daripada GPRS.

Jaringan GSM/GPRS

Jaringan GPRS terpisah dari jaringan GSM dan saat ini hanya digunakan untuk aplikasi data. Komponen-komponen utama jaringan GPRS antara lain adalah :
– GGSN(Gateway GPRS Support Node) gerbang penghubung jaringan GSM ke jaringan internet
– SGSN(Serving GPRS Support Node) gerbang penghubung jaringan BSS/BTS ke jaringan GPRS
– PCU(Packet Control Unit) komponen di level BSS yang menghubungkan terminal ke jaringan GPRS

GGSN (Gateway GPRS Support Node) berperan sebagai “router” dalam rangkaian jaringan GPRS. Ketika ada koneksi dari luar seperti internet perlu mengirimkan data kepada user yang menggunakan koneksi GPRS, GGSN akan mendeteksi apakah user tersebut sedang aktif. Jika iya, data akan dikirimkan ke pemiliknya. Bila user yang dituju sedang tidak aktif, datanya akan dibuang. Pengiriman data dari jaringan GPRS juga akan diatur oleh GGSN untuk dikirimkan ke jaringan yang tepat.

SGSN atau yang dikenal dengan nama Serving GPRS Support Node berfungsi sebagai pengatur koneksi data dari dan ke BTS serta perangkat mobile yang ada di daerah geografis SGSN tersebut. SGSN dilengkapi dengan data semua perangkat mobile yang menggunakan koneksi data GPRS serta VLR mereka. SGSN juga berperan sebagai pencatat jumlah data yang telah lewat dalam satu device sehingga dapat berfungsi sebagai pencatat tagihan suatu mobile device.

PCU (Packet Control Unit) berfungsi mirip dengan BSC di jaringan GSM, tetapi berfungsi untuk paket data dari internet. Channel yang tersedia tetap dikontrol oleh Base Station. Tetapi ketika PCU diberikan channel oleh BSS, PCU akan memiliki kontrol penuh terhadap semua data yang lewat. FUngsi utama PCU adalah sebagai penghubung GGSN dan SGSN.

Perangkat yang mendukung koneksi GPRS dapat dibedakan menjadi tiga jenis. Class A, B, dan C. Class A dapat melakukan koneksi teks dan suara yang dimiliki oleh GSM berbarengan dengan koneksi data GPRS. Class B dapat melakukan keduanya tetapi secara bergantian (mayoritas perangkat mobile yang digunakan masyarakat luas termasuk kategori ini). Terakhir, Class C hanya dapat melakukan koneksi GSM atau GPRS saja.
Secara teori kecepatan pengiriman data GPRS dapat mencapai 115 kb/s. Namun dalam implementasinya sangat tergantung dari berbagai hal seperti konfigurasi dan alokasi time slot di level Radio/BTS (karena penggunaan sistem TDMA), teknologi software yang digunakan, dan juga dukungan ponsel.

Advertisements

Leave a comment

3G : Third Generation

Pada awalnya koneksi mobile wireless pertama bernama AMPS (Advanced Mobile Phone Service) yang hanya menyediakan layanan data analog berupa suara dan tanpa layanan pengiriman data. Perkembangan selanjutnya berupa teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) dan GSM (Global System for Mobile Communications) yang mengadopsi teknologi TDMA (Time Division Multiple Access). Teknologi ini menawarkan fasilitas transmisi suara digital serta transfer data dengan kecepatan kecil menggunakan sistem GPRS.

AMPS dan GSM dikenal dunia sebagai teknologi 1G serta 2G. Ketika manusia membutuhkan koneksi data yang lebih cepat dan dengan kapasitas lebih besar, ditemukanlah teknologi 3G yang diwakili oleh UMTS(Universal Mobile Telecommunications System), juga dikenal sebagai W-CDMA (Wide-Band CDMA) dan CDMA2000. Teknologi ini menawarkan kualitas suara yang lebih bagus dari 2G serta kecepatan koneksi internet yang jauh lebih cepat yang memungkinkan pengiriman data multimedia.

Perkembangan Teknologi

3G sendiri sebenarnya merupakan kumpulan teknologi koneksi mobile yang memenuhi standar International Mobile Telecommunications-2000 (IMT-2000) yaitu sebuah koneksi harus menyediakan kecepatan transfer data minimal 200kbit/s. Ada tiga teknologi yang memenuhi standar ini yaitu EDGE, UMTS (W-CDMA), dan CDMA2000. EDGE sering dikatakan sebagai 2.9G karena kemampuan maksimalnya adalah kecepatan minimal koneksi 3G itu sendiri, lain dengan sistem UMTS dan CDMA2000 yang dapat melampaui kecepatan ini dengan mudah.

Kapabilitas 3G diklaim mampu memberikan kecepatan transfer data sampai dengan 144 kbits/s untuk kendaraan yang bergerak, 384 kbits/s untuk para pejalan kaki, dan 2Mbits/s atau lebih untuk koneksi didalam rumah. Kemampuan sekuriti juga ditambahakan untuk mendeteksi apakah mobile device yang digunakan dipakai oleh pemiliknya. Lokasi geografis device juga dapat dideteksi serta keseragaman sistem tagihan antar penyedia layanan juga ditambahkan. Kemampuan terpenting lainnya adalah transfer data multimedia untuk semakin memperkaya pengalaman pengguna.

3G dapat dengan mudah diintegrasikan dengan jaringan 2G. sebagai contoh diambil jaringan GSM yang ditambahkan sistem UMTS. Bagian yang dilingkari warna biru muda merupakan sistem inti 3G.
Tingkat perkembangan pasar

Sekarang, teknologi lanjutan dari 3G mulai dipasarkan mengikuti pergantian setiap 10 tahun sekali (1G pada tahun 1980, 2G pada tahun 1990, 3G pada tahun 2000) yang bernama 4G.

Perbandingan kecepatan

Syarat kecepatan data 4G adalah 100Mbits/s untuk device yang bergerak serta 1Gbits/s untuk device yang stasioner (tidak bergerak). Meskipun belum ada yang mampu memenuhinya, sudah ada teknologi lanjutan dari rangkaian GSM > UMTS yang bernama LTE (Long Term Evolution) yang diajukan oleh perusahaan telekomunikasi Jepang NTT DoCoMo

Leave a comment

Understanding Cellular System

Topik ini akan membahas tentang sistem seluler. Mengapa dinamakan seluler, tiga bagian penyusun koneksi seluler dan rincian dari setiap bagian tersebut.

Sistem ini dinamakan sistem seluler karena penggunaan “sel” sinyal dalam pelaksanaannya. Ada dua alasan mengapa menggunakan sistem sel. Pertama, sinyal radio yang digunakan dalam sistem seluler hanya dapat menyebar beberapa kilometer saja dari tempat dia dihasilkan dan menyebar rata ke setiap sisi yang membentuk sebuah lingkaran. Untuk dapat menyebar lebih jauh lagi, setiap lingkaran sinyal harus menumpuk sedikit dengan satu sama lain agar dapat memperluas jangkauan sinyal.

Kedua, dengan dibuatnya banyak sel akan membuat kapasitas jaringan dapat menampung lebih banyak koneksi karena jumlah koneksi yang dapat ditampung oleh sebuah sel terbatas. Dengan adanya banyak sel, jika sebuah sel penuh atau sebuah koneksi berpindah sel, sel lain dapat menampung koneksi tersebut tanpa mengurangi kualitas koneksi.

Sistem seluler memiliki tiga bagian utama, yaitu Sistem Pengatur Koneksi (Switching Subsystem), Sistem Pemancar Utama (Base Station Subsystem), dan Sistem Penerima (Mobile). Secara singkat, sistem pengatur koneksi berfungsi untuk mengatur jalur koneksi agar terhubung ke tempat yang semestinya, sistem pemancar utama memastikan koneksi terjadi di frekuensi yang tepat, dan sistem penerima membolehkan pengguna untuk menerima panggilan.

Sistem Pengatur Koneksi (Switching Subsystem)

Sebelum mengenal sistem pengatur koneksi seluler, terlebih dulu kita harus mengerti tentang sistem pengatur koneksi
telepon rumah yang sering dikenal dengan nama PSTN (Public Switched Telephone Network). Sistem ini berkerja dengan cara
membaca nomor yang dimasukkan oleh pengguna. Sebagai contoh angka +62318112345 akan dibaca sebagai berikut :

+ (00) : permintaan untuk sambungan internasional.

62 : kode negara, setiap negara memiliki kode tersendiri.

31 : kode daerah yang diatur oleh negara yang memilikinya.

8112345 : nomor telepon tujuan.

Pengintegrasian sistem PSTN dengan seluler adalah dengan membuatkan kode khusus seluler yang berada di depan
deretan angka agar diketahui nomor telepon yang dimasukkan merupakan nomor telepon seluler sehingga tidak dilewatkan melalui sistem PSTN.

Karena pengguna seluler selalu bergerak tidak seperti telepon rumah, sistem pengatur koneksinya memiliki fitur-fitur
tambahan. Fitur-fitur tambahan tersebut adalah AuC (Authentification Center : Pusat Autentifikasi), HLR (Home Location Register : register lokasi lokal), VLR (Visitors Location Register : register lokasi pengunjung), EIR (Equipment Identity Register : register identitas perangkat), dan MSC(Mobile Switching Center : sistem pengatur koneksi mobile). AuC, HLR, VLR, dan EIR merupakan bagian dari sistem penerima dan hanya MSC yang merupakan inti dari sistem pengatur koneksi mobile.

Sistem Pemancar Utama (Base Station Subsystem)

Base Station Subsystem
(BSS) adalah bagian sistem yang mengatur koneksi melalui gelombang radio. Ketika sebuah koneksi sudah ditentukan jalurnya oleh sistem switching, tugas BSS-lah yang mengantarkan data untuk sampai ke penerima.

Sistem BSS terdiri dari susunan BTS (Base Transceiver Station) yang merupakan pusat dari sebuah sel yang menyusun
sistem seluler. BTS sendiri merupakan gabungan dari pemancar (Transmitter) dan penerima (Receiver). BTS disini selain memancarkan gelombang radio untuk meneruskan sinyal, juga berfungsi untuk memperbaiki sinyal yang mengalami masalah dan memproteksi sinyal yang lewat agar tidak dapat didengar oleh orang lain.

Sistem Penerima (Mobile)

Sistem penerima merupakan salah satu bagian dari sistem pengatur koneksi karena sistem penerima menentukan apakah
suatu alamat tujuan dapat dihubungi atau tidak. Sistem penerima memiliki beberapa fungsi antara lain AuC (Authentification
Center : Pusat Autentifikasi), HLR (Home Location Register : register lokasi lokal), VLR (Visitors Location Register : register lokasi pengunjung), dan EIR (Equipment Identity Register : register identitas perangkat).

HLR dan VLR digunakan untuk mendeteksi lokasi perangkat agar dapat diketahui apakah masih dalam jaringan lokal tempat
perangkat tersebut didaftarkan atau sudah berpindah lokasi serta digunakan untuk mengirimkan data melalui jalur yang seharusnya. EIR digunakan sebagai tempat penyimpanan data perangkat seluler yang diketahui dicuri sehinggan
lokasi perangkat tersebut dapat terdeteksi serta koneksi perangkat tersebut akan diblokir.

Leave a comment

WiMAX

WiMAX adalah singkatan dari Worldwide Interoperability for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dengan jangkauan yang luas. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik. Disamping kecepatan data yang tinggi mampu diberikan, WiMAX juga merupakan teknologi dengan open standar. Dalam arti komunikasi perangkat WiMAX di antara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang besar (sampai 70 MBps), WiMAX dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband ‘last mile’, ataupun backhaul.

Wi Max Standar BWA yang saat ini umum diterima dan secara luas digunakan adalah standar yang dikeluarkan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineering (IEEE), seperti standar 802.15 untuk Personal Area Network (PAN), 802.11 untuk jaringan Wireless Fidelity (WiFi), dan 802.16 untuk jaringan Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX).

Pada jaringan selular juga telah dikembangkan teknologi yang dapat mengalirkan data yang overlay dengan jaringan suara seperti GPRS, EDGE, WCDMA, dan HSDPA. Masing-masing evolusi pada umumnya mengarah pada kemampuan menyediakan berbagai layanan baru atau mengarah pada layanan yang mampu menyalurkan voice, video dan data secara bersamaan (triple play). Sehingga strategi pengembangan layanan broadband wireless dibedakan menjadi Mobile Network Operator (MNO) dan Broadband Provider (BP).

WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access) adalah sebuah tanda sertifikasi untuk produk-produk yang lulus tes cocok dan sesuai dengan standar IEEE 802.16. WiMAX merupakan teknologi nirkabel yang menyediakan hubungan jalur lebar dalam jarak jauh. WiMAX merupakan teknologi broadband yang memiliki kecepatan akses yang tinggi dan jangkauan yang luas. WiMAX merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik. Disamping kecepatan data yang tinggi mampu diberikan, WiMAX juga membawa isu open standar. Dalam arti komunikasi perangkat WiMAX di antara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang besar (sampai 70 MBps), WiMAX layak diaplikasikan untuk ‘last mile’ broadband connections, backhaul, dan high speed enterprise.

Yang membedakan WiMAX dengan Wi-Fi adalah standar teknis yang bergabung di dalamnya. Jika WiFi menggabungkan standar IEEE 802.11 dengan ETSI (European Telecommunications Standards Intitute) HiperLAN sebagai standar teknis yang cocok untuk keperluan WLAN, sedangkan WiMAX merupakan penggabungan antara standar IEEE 802.16 dengan standar ETSI HiperMAN.

Standar keluaran IEEE banyak digunakan secara luas di daerah asalnya, Amerika, sedangkan standar keluaran ETSI meluas penggunaannya di daerah Eropa dan sekitarnya. Untuk membuat teknologi ini dapat digunakan secara global, maka diciptakanlah WiMAX. Kedua standar yang disatukan ini merupakan standar teknis yang memiliki spesifikasi yang sangat cocok untuk menyediakan koneksi berjenis broadband lewat media wireless atau dikenal dengan BWA.

Sebagai teknologi yang berbasis pada frekuensi, kesuksesan WiMAX sangat bergantung pada ketersediaan dan kesesuaian spektrum frekuensi. Sistem wireless mengenal dua jenis band frekuensi yaitu Licensed Band dan Unlicensed Band. Licensed band membutuhkan lisensi atau otoritas dari regulator, yang mana operator yang memperoleh licensed band diberikan hak eksklusif untuk menyelenggarakan layanan dalam suatu area tertentu. Sementara Unlicensed Band yang tidak membutuhkan lisensi dalam penggunaannya memungkinkan setiap orang menggunakan frekuensi secara bebas di semua area.

WiMAX Forum menetapkan 2 band frekuensi utama pada certication profile untuk Fixed WiMAX (band 3.5 GHz dan 5.8 GHz), sementara untuk Mobile WiMAX ditetapkan 4 band frekuensi pada system profile release-1, yaitu band 2.3 GHz, 2.5 GHz, 3.3 GHz dan 3.5 GHz.

Secara umum terdapat beberapa alternatif frekuensi untuk teknologi WiMAX sesuai dengan peta frekuensi dunia. Dari alternatif tersebut band frekuensi 3,5 GHz menjadi frekuensi mayoritas Fixed WiMAX di beberapa negara, terutama untuk negara-negara di Eropa, Canada, Timur-Tengah, Australia dan sebagian Asia. Sementara frekuensi yang mayoritas digunakan untuk Mobile WiMAX adalah 2,5 GHz.

Isu frekuensi Fixed WiMAX di band 3,3 GHz ternyata hanya muncul di negara-negara Asia. Hal ini terkait dengan penggunaan band 3,5 GHz untuk komunikasi satelit, demikian juga dengan di Indonesia. Band 3,5 GHz di Indonesia digunakan oleh satelit Telkom dan PSN untuk memberikan layanan IDR dan broadcast TV. Dengan demikian penggunaan secara bersama antara satelit dan wireless terrestrial (BWA) di frekuensi 3,5 GHz akan menimbulkan potensi interferensi terutama di sisi satelit.

Banyak keuntungan yang didapatkan dari terciptanya standardisasi industri ini. Para operator telekomunikasi dapat menghemat investasi perangkat, karena kemampuan WiMAX dapat melayani pelanggannya dengan area yang lebih luas dan tingkat kompatibilitas lebih tinggi. Selain itu, pasarnya juga lebih meluas karena WiMAX dapat mengisi celah broadband yang selama ini tidak terjangkau oleh teknologi Cable dan DSL (Digital Subscriber Line).

WiMAX salah satu teknologi memudahkan mereka mendapatkan koneksi Internet yang berkualitas dan melakukan aktivitas. Sementara media wireless selama ini sudah terkenal sebagai media yang paling ekonomis dalam mendapatkan koneksi Internet. Area coverage-nya sejauh 50 km maksimal dan kemampuannya menghantarkan data dengan transfer rate yang tinggi dalam jarak jauh, sehingga memberikan kontribusi sangat besar bagi keberadaan wireless MAN dan dapat menutup semua celah broadband yang ada saat ini. Dari segi kondisi saat proses komunikasinya, teknologi WiMAX dapat melayani para subscriber, baik yang berada dalam posisi Line Of Sight (posisi perangkat-perangkat yang ingin berkomunikasi masih berada dalam jarak pandang yang lurus dan bebas dari penghalang apa pun di depannya) dengan BTS maupun yang tidak memungkinkan untuk itu (Non-Line Of Sight). Jadi di mana pun para penggunanya berada, selama masih masuk dalam area coverage sebuah BTS (Base Transceiver Stations), mereka mungkin masih dapat menikmati koneksi yang dihantarkan oleh BTS tersebut.

Selain itu, dapat melayani baik para pengguna dengan antena tetap (fixed wireless) misalnya di gedung-gedung perkantoran, rumah tinggal, toko-toko, dan sebagainya, maupun yang sering berpindah-pindah tempat atau perangkat mobile lainnya. Mereka bisa merasakan nikmatnya ber-Internet broadband lewat media ini. Sementara range spektrum frekuensi yang tergolong lebar, maka para pengguna tetap dapat terkoneksi dengan BTS selama mereka berada dalam range frekuensi operasi dari BTS.

Sistem kerja MAC-nya (Media Access Control) yang ada pada Data Link Layer adalah connection oriented, sehingga memungkinkan penggunanya melakukan komunikasi berbentuk video dan suara. Siapa yang tidak mau, ber-Internet murah, mudah, dan nyaman dengan kualitas broadband tanpa harus repot-repot. Anda tinggal memasang PCI card yang kompatibel dengan standar WiMAX, atau tinggal membeli PCMCIA (Personal Computer Memory Card International Association) yang telah mendukung komunikasi dengan WiMAX. Atau mungkin Anda tinggal membeli antena portabel dengan interface ethernet yang bisa dibawa ke mana-mana untuk mendapatkan koneksi Internet dari BTS untuk fixed wireless.

Leave a comment

Asynchronous Transfer Mode

Asynchronous Transfer Mode atau Mode Transfer Asinkron (disingkat ATM) adalah nama sebuah jaringan khusus. ATM merupakan sebuah teknologi lapisan 2, yang dapat digunakan oleh siapa saja, namun sekaligus merupakan sebuah jaringan publik sebagaimana halnya Internet, dengan sistem pengalamatan yang dikelola secara rapi, sehingga setiap perangkat di dalam jaringan dapat memiliki sebuah identitas yang unik. [1]

Asynchronous Transfer Mode merupakan standar internasional untuk cell relay di mana multiple tipe layanan (semisal suara digital / voice, video, atau data) disampaikan dalam fixed length (53-byte) cells.[2] Fixed-length cells memungkinkan proses sel (cell) berlangsung dalam perangkat keras (hardware), dengan demikian akan mereduksi keterlambatan transmit.[2] ATM dirancang untuk transmisi media berkecepatan tinggi seperti E3, SONET, dan T3.[2]

Pada ATM seluruh informasi yang akan ditransfer akan dibagi menjadi slot-slot dengan ukuran tetap yang disebut sel. Ukuran sel pada ATM adalah 53 oktet (1 oktet =8 bits) yang terdiri dari :[3]

* 48 oktet untuk field informasi, dan
* 5 oktet untuk header.

Sebagai teknologi yang dipilih oleh International Telecommunication Union (ITU, sebelumnya CCITT) untuk ISDN jalur lebar (broadband), protokol komunikasi ini juga dispesifikasikan oleh ATM Forum untuk transmisi 155 Mbps pada layer data link menggunakan kabel twisted pair dan aplikasi dalam pengkabelan fiber optik dalam versi yang terakselerasi dari Asynchronous Time Division Multiplexing (ATDM) untuk membawa banyak aliran informasi melalui sebuah kanal komunikasi.[4]

ATM berbeda dalam beberapa hal dari teknologi data link lain yang lebih umum seperti Ethernet.[4] Sebagai contoh, ATM tidak melibatkan routing. Komponen perangkat keras yang disebut ATM Switch membentuk koneksi point to point antara kedua ujung transmisi, dan data mengalir langsung dari sumber ke tujuan.[4] ATM tidak menggunakan paket dengan panjang yang berubah-ubah, tetapi menggunakan sel berukuran tetap.[4]

Kinerja ATM diekspresikan dalam bentuk tingkatan OC (Optical Carrier), dan ditulis sebagai “OC-xxx”.[4] Tingkatan kinerja setinggi 10 Gbps (OC-192) secara teknis bisa dicapai dalam ATM. OC-3 (155 Mbps) dan OC-12 (622 Mbps) adalah tingkatan kinerja yang lebih umum untuk ATM.[4] ATM dirancang untuk mendukung pengelolaan pita lebar (bandwidth) yang lebih mudah. Tanpa adanya routing dan dengan sel berukuran tetap, pengguna dapat dengan mudah memonitor dan mengendalikan pita lebar (bandwidth) ATM dibandingkan dengan Ethernet.[4]

Teknologi ATM menawarkan dua karakteristik yang memperbaiki tingkat kecepatan transfer data.[5] Pertama, besarnya paket yang dikomunikasikan menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan protokol-protokol untuk sistem telepon, sehingga memungkinkan paket-paket dari pengguna yang berbeda yang melewati jaringan pada waktu yang bersamaan dapat dikelompokkan secara merata.[5] Karakteristik ATM yang kedua adalah mengingkatnya kecepatan, dari 25 hingga 155 Mbps.[5] Bahkan, peralatan ATM dapat menggabungkan 16 saluran menajadi satu untuk menghasilkan kecepatan transfer hampir sebesar 2,5 juta bit per detik.[5]

Referensi

1. ^ Pengalih bahasa : Irzam Hardiansyah, S.T. (2004). SCHAUM’S OUTLINE : COMPUTER NETWORKING (JARINGAN KOMPUTER). ERLANGGA.
2. ^ a b c Rahmat Rafiudin (2003). Panduan Membangun Jaringan Komputer Untuk Pemula. Elex Media Komputindo. ISBN 979-20-4311-X.
3. ^ onno.vlsm.org : Asynchronuous Transfer Mode suatu evolusi menuju jaringan B-ISDN
4. ^ a b c d e f g Wahana komputer (2004). Kamus Lengkap Jaringan Komputer. Salemba Infotek. ISBN 979-9550-42-4.
5. ^ a b c d Raymond McLeod, Jr. & George P. Schell (2008). Sistem Informasi Manajemen Edisi 10. Salemba Empat. ISBN 978-979-691-453-1.

Leave a comment

Ethernet Dan Fiber Optic

100Mbps ethernet untuk LAN tampaknya bukan sebuah hal yang aneh lagi bagi kita yang ada di Indonesia. Bahkan sekarang sudah mulai dengan kehadiran 1Gbps pada hardware yang kita punya sekarang(contoh: TP-LINK TG-3468). Bayangkan bila kecepatanya 10Gbps mungkin juga 100Gbps. Ya kita tunggu saja IEEE 802 LAN/MAN Standards Committee melakukan pekerjaannya.

Adabeberapa keuntungan yang bisa diperoleh dengan menggunakan LAN kecepatan tinggi ini, misalnya:

·    Interkoneksi server untuk cluster server.
·    Switch pada server.
·    Aggregasi beberapa 1000BASE-T menjadi 10GbE (Gbit Ethernet).
·    Sambungan antar gedung.
·    Penggunaan Media Single Mode Fiber (SMF) dan Multi Mode Fiber (MMF)

Bagi ISP / Network Service Provider (NSP) penggunaan teknologi Gbps Ethernet (GbE) ini menarik dipandang dari beberapa aplikasi seperti:

·    Interkoneksi Server Farm (peternakan server).
·    Sambungan intra-POP menggunakan Multi Mode Fiber (MMF) untuk jarak < 300 meter.
·    POP uplink untuk Inter-POP untuk jarak < 40 km.
·    Akses Metropolitan Area Access (MAN) melalui Wavelength Division Multiplexing (WDM).
·    Menggunakan media dark fiber, SONET, TDM dll.

Pada kecepatan 10Gbps, kabel UTP sama sekali tidak digunakan. Jaringan fisik fiber optik digunakan secara ekslusif dan full duplex. Single Mode Fiber (SMF) & Multi Mode Fiber (MMF) dapat digunakan pada 10Gbps ethernet. Teknik Multi-Level Analog Signaling (MAS) yang digunakan untuk memodulasi data pada kecepatan 10Gbps sebetulnya dapat di paksa untuk bekerja s/d 40Gbps. MAS sendiri diturunkan dari Pulse Amplitude Modulation (PAM) yang secara sederhana merupakan proses On-Off Keying cocok untuk memodulasi sinar laser. Umumnya menggunakan Reed Solomon Forward Error Correction (FEC) untuk memperoleh Bit Error Rate (BER) sekitar 10-14 (sangat tinggi sekali). Dengan teknologi Silicon CMOS submicron dengan lebar gate 0.18um diperoleh gate delay sekitar 30 ps (sekitar 30GHz frekuensi cut off).

Leave a comment